Akselerasi Penurunan AKI-AKB, Kota Tangerang Terapkan Pendekatan Quality Improvement Collaborative Berbasis Data dan Layanan Kesehatan
TANGERANG, tangrayanews.com
Pemerintah Kota Tangerang melalui Dinas Kesehatan terus memperkuat transformasi sistem pelayanan kesehatan maternal dan neonatal sebagai bagian dari strategi percepatan penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB).
Salah satu langkah inovatif yang kini diimplementasikan adalah penerapan pendekatan Quality Improvement Collaborative (QIC), sebuah model peningkatan mutu layanan kesehatan yang menitikberatkan pada kolaborasi lintas fasilitas kesehatan berbasis data, evaluasi berkelanjutan, dan praktik pembelajaran bersama.
Program strategis tersebut saat ini diterapkan pada empat rumah sakit intervensi dan lima puskesmas di Kota Tangerang sebagai upaya sistematis untuk memperkuat kualitas pelayanan kesehatan ibu dan anak, khususnya dalam penanganan kasus-kasus maternal dan neonatal berisiko tinggi.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangerang, dr. Dini Anggraeni, M.M., menjelaskan bahwa rumah sakit yang menjadi bagian dari program intervensi meliputi RS Melati, RS Dinda, RSUD Kota Tangerang, dan RSU Bhakti Asih. Sementara lima puskesmas yang terlibat adalah Puskesmas Panunggangan, Cipondoh, Kunciran, Poris Gaga Lama, dan Tanah Tinggi.
Menurutnya, pendekatan QIC merupakan model peningkatan mutu yang telah terbukti efektif dalam mendorong perubahan pelayanan kesehatan secara cepat, terukur, dan berkelanjutan. Melalui pendekatan ini, setiap fasilitas kesehatan melakukan identifikasi permasalahan berbasis data klinis aktual, kemudian mengembangkan solusi melalui siklus perbaikan mutu yang dikenal sebagai Plan-Do-Study-Act (PDSA).
“QIC memungkinkan fasilitas kesehatan melakukan reorganisasi pelayanan secara mandiri dengan memanfaatkan data riil di lapangan. Setiap tantangan pelayanan dapat dianalisis secara objektif, kemudian diuji melalui siklus perbaikan yang berkesinambungan hingga menghasilkan model pelayanan yang lebih efektif,” ujar dr. Dini.
Lebih lanjut, dr. Dini mengungkapkan bahwa pemilihan empat rumah sakit intervensi dilakukan berdasarkan tingginya volume penanganan kasus maternal dan neonatal yang menjadi indikator penting dalam upaya penurunan AKI dan AKB.
Melalui mekanisme Learning Network atau jejaring pembelajaran, seluruh fasilitas kesehatan yang tergabung dalam program ini secara aktif berbagi pengalaman, inovasi, strategi klinis, hingga praktik terbaik dalam menangani berbagai kasus kegawatdaruratan obstetri dan neonatal.
Fokus utama intervensi diarahkan pada penanganan dua penyebab utama kematian ibu dan bayi, yakni Perdarahan Pasca Persalinan (Postpartum Hemorrhage/HPP) dan Asfiksia Neonatorum, serta pengendalian kasus Preeklampsia dan Eklampsia yang selama ini menjadi tantangan besar dalam pelayanan kesehatan ibu.
Pendekatan kolaboratif tersebut dinilai mampu menciptakan standar pelayanan yang lebih adaptif, responsif, dan berbasis bukti ilmiah (evidence-based practice), sehingga setiap fasilitas kesehatan dapat mengimplementasikan inovasi pelayanan secara lebih cepat dan terukur
Upaya yang dilakukan Pemerintah Kota Tangerang menunjukkan hasil yang menggembirakan. Berdasarkan data Dinas Kesehatan, angka kematian ibu dan bayi mengalami tren penurunan dalam beberapa tahun terakhir.
Pada tahun 2024 tercatat sebanyak 7 kasus kematian ibu dan 37 kasus kematian bayi. Angka tersebut menurun pada tahun 2025 menjadi 5 kasus kematian ibu dan 36 kasus kematian bayi. Sementara hingga Mei 2026, Kota Tangerang berhasil mencatatkan nol kasus kematian ibu, sedangkan angka kematian bayi berada pada 12 kasus.
“Alhamdulillah, capaian ini menunjukkan bahwa berbagai intervensi yang dilakukan mulai memberikan dampak positif terhadap peningkatan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan anak di Kota Tangerang,” ungkap dr. Dini.
Implementasi QIC di sembilan fasilitas kesehatan menunjukkan sejumlah capaian strategis yang menjadi indikator keberhasilan program peningkatan mutu layanan kesehatan tersebut.

Pertama, terjadi penurunan signifikan kasus Preeklampsia (PE). Pada tahun 2025, median kejadian PE berhasil ditekan hingga 25,88 persen di bawah garis median, bahkan mampu dikendalikan hingga hanya sekitar 1 persen pada seluruh fasilitas kesehatan yang mengikuti program.
Keberhasilan ini berdampak langsung pada capaian luar biasa berupa tidak adanya kematian ibu akibat Preeklampsia maupun Eklampsia sepanjang periode 2023 hingga 2025 di sembilan fasilitas kesehatan pelaksana QIC.
Kedua, program ini juga berhasil menekan angka kematian ibu akibat Perdarahan Pasca Persalinan (HPP). Sepanjang tahun 2025, tercatat tidak ada kematian ibu akibat HPP pada seluruh fasilitas kesehatan yang terlibat dalam program QIC.
Ketiga, intervensi mutu layanan neonatal menunjukkan hasil yang tidak kalah signifikan. Lima puskesmas peserta program berhasil menurunkan angka kejadian asfiksia bayi baru lahir, sementara empat rumah sakit intervensi berhasil menurunkan angka kematian bayi yang disebabkan oleh kondisi tersebut.
Capaian ini menjadi bukti bahwa pendekatan kolaboratif berbasis mutu tidak hanya meningkatkan kualitas tata kelola pelayanan kesehatan, tetapi juga berdampak langsung terhadap keselamatan ibu dan bayi sebagai kelompok paling rentan dalam sistem kesehatan.
Sebagai bentuk komitmen jangka panjang, Pemerintah Kota Tangerang berencana melakukan scale-up atau perluasan implementasi Quality Improvement Collaborative secara bertahap ke seluruh rumah sakit dan puskesmas di wilayah Kota Tangerang.
Langkah ini diharapkan dapat memperkuat budaya peningkatan mutu berkelanjutan (continuous quality improvement) di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan, sekaligus mempercepat pencapaian target pembangunan kesehatan daerah maupun nasional dalam menurunkan Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi.
“Ke depan, praktik baik yang telah terbukti efektif ini akan terus kami kembangkan dan diperluas ke seluruh fasilitas kesehatan di Kota Tangerang. Peningkatan mutu layanan kesehatan merupakan investasi strategis untuk memastikan setiap ibu dan bayi memperoleh pelayanan yang aman, berkualitas, dan berkesinambungan,” pungkas dr. Dini.
Implementasi Quality Improvement Collaborative menjadi bukti bahwa transformasi pelayanan kesehatan tidak hanya bergantung pada ketersediaan sarana dan prasarana, tetapi juga pada kemampuan membangun kolaborasi, mengoptimalkan data, serta menciptakan budaya perbaikan berkelanjutan yang berorientasi pada keselamatan pasien dan kualitas hidup masyarakat.
Rohiim








