RSUD Pakuhaji Intensifkan Edukasi Kesehatan Masyarakat Bersama Tiga Dokter Spesialis: Kenali Alergi,Waspadai Kanker Payudara dan Jantung


Kab TANGERANG,tangrayanews.com
Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Pakuhaji Kabupaten Tangerang terus mempertegasnya sebagai institusi pelayanan kesehatan yang tidak hanya fokus pada aspek kuratif, tetapi juga mengedepankan pendekatan promotif dan preventif sebagai landasan pembangunan kesehatan masyarakat yang berkelanjutan.

Melalui Tim Promosi Kesehatan Rumah Sakit (Promkes), RSUD Pakuhaji menyelenggarakan kegiatan edukasi kesehatan terpadu yang menghadirkan sejumlah dokter spesialis lintas disiplin ilmu kedokteran dalam rangka meningkatkan literasi kesehatan, khususnya warga pesisir Pantai Utara (Pantura) Kabupaten Tangerang.

Kegiatan yang berlangsung di Gedung RSUD Pakuhaji, Jalan Raya Pakuhaji, Kabupaten Tangerang, pada Jumat 19/6/2026 menghadirkan tiga narasumber utama, yakni Dokter Spesialis Telinga Hidung Tenggorokan dr. Gama Antares, Sp.THT, Dokter Spesialis Bedah Onkologi dr. Ivan Rinaldy, M.Ked (Surg), Sp.B.Subsp.Onk.(K), serta Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah dr. Novita G. Liman, Sp.JP, FIHA.

Forum edukasi ini mengangkat sejumlah isu kesehatan yang memiliki prevalensi tinggi di masyarakat, mulai dari Rhinitis Alergi, deteksi dini kanker payudara, hingga pencegahan penyakit jantung koroner yang hingga kini masih menjadi penyebab utama kematian akibat penyakit tidak menular di Indonesia.

MENGUNGKAP BAHAYA RHINITIS ALERGI YANG SERING DIABAIKAN

Dalam sesi pemaparan ilmiah bertajuk Kenali Alergi, Cegah Reaksi, dr. Gama menjelaskan bahwa Rhinitis Alergi merupakan salah satu gangguan inflamasi kronis pada saluran pernafasan bagian atas yang sering dianggap sepele oleh masyarakat, padahal dampaknya dapat mengganggu berbagai aspek kehidupan penderitanya.

Menurutnya, penyakit tersebut terjadi akibat respon hipersensitivitas sistem imun terhadap zat-zat tertentu yang secara umum tidak berbahaya bagi tubuh. Berbagai faktor lingkungan seperti debu rumah tangga, tungau, serbuk sari, bulu hewan peliharaan, perubahan suhu udara, hingga beberapa jenis makanan dapat menjadi pemicu munculnya reaksi alergi.

“Manifestasi klinis yang paling sering ditemukan meliputi bersin berulang, rasa gatal di hidung, keluarnya cairan bening dari hidung, hingga sumbatan hidung yang berlangsung terus-menerus. Jika tidak ditangani dengan baik, kondisi ini dapat menurunkan kualitas tidur, mengganggu konsentrasi belajar, menghambat produktivitas kerja, bahkan berpotensi menimbulkan komplikasi pada sistem pernapasan,” jelas dr. Gama.

Ia menambahkan bahwa pemeriksaan medis pada penderita Rhinitis Alergi umumnya menunjukkan adanya perubahan anatomi dan fisiologi pada rongga hidung, seperti mukosa berwarna pucat kebiruan, hipertrofi konka, peningkatan produksi sekret, serta proses inflamasi yang berlangsung kronis.

Fenomena tersebut menjadi indikator penting dalam proses penegakan diagnosis sekaligus penentuan strategi terapi yang tepat dan komprehensif.

DETEKSI DINI KANKER PAYUDARA MENJADI INVESTASI KESEHATAN JANGKA PANJANG

Pada sesi berikutnya, dr. Ivan Rinaldy, M.Ked (Surg), Sp.B.Subsp.Onk.(K), menggarisbawahi pentingnya budaya deteksi dini dalam upaya menekan kematian akibat kanker payudara yang masih menjadi salah satu kanker dengan angka kejadian tertinggi pada perempuan.

Menurutnya, keberhasilan terapi kanker sangat dipengaruhi oleh stadium penyakit saat pertama kali ditemukan. Semakin awal kanker teridentifikasi, semakin besar peluang keberhasilan pengobatan dan peningkatan kualitas hidup pasien.

“Deteksi dini bukan sekedar prosedur pemeriksaan kesehatan, melainkan bentuk investasi terhadap masa depan. Kanker yang ditemukan pada stadium awal memiliki tingkat keberhasilan terapi yang jauh lebih tinggi dibandingkan kasus yang baru diketahui ketika telah memasuki fase lanjut,” paparnya.

Dalam kegiatannya, masyarakat juga diberikan pemahaman mengenai teknik Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI) atau Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI) yang dapat dilakukan secara mandiri setiap bulan sebagai langkah awal untuk mengenali perubahan pada jaringan payudara.

Selain pemeriksaan mandiri, peserta juga diimbau untuk memeriksa pemeriksaan klinis secara berkala guna meningkatkan peluang mengidentifikasi dini terhadap berbagai kelainan yang berpotensi berkembang menjadi keganasan.

KAMPANYE CERDIK PERKUAT KESADARAN MASYARAKAT MENJAGA KESEHATAN JANTUNG

Disesi yang sama, dr. Novita G. Liman, Sp.JP, FIHA, menyoroti meningkatnya beban penyakit kardiovaskular yang menjadi tantangan serius dalam sistem kesehatan modern.

Dalam paparannya, ia menegaskan bahwa sebagian besar faktor risiko penyakit jantung koroner sebenarnya dapat dikendalikan melalui perubahan perilaku dan penerapan pola hidup sehat secara konsisten.

Sebagai bentuk edukasi masyarakat, RSUD Pakuhaji mengampanyekan penerapan CERDIK yang terdiri dari Prinsip Kesehatan Secara Berkala, Enyahkan Asap Rokok, Rajin Beraktivitas Fisik, Pola Makan Sehat dan Seimbang, Istirahat yang Cukup, serta Kelola Stres Secara Bijaksana.

Menurut dr. Novita, strategi preventif tersebut terbukti efektif dalam mengurangi risiko terjadinya hipertensi, aterosklerosis, gangguan metabolik, hingga berbagai penyakit jantung yang mengancam keselamatan jiwa.

“Masyarakat perlu memahami bahwa kesehatan jantung tidak dibangun ketika seseorang sudah sakit, tetapi dimulai dari kebiasaan sehari-hari yang sehat dan berkelanjutan,” ujarnya.

DIREKTUR RSUD PAKUHAJI: EDUKASI MENJADI PILAR PENTING TRANSFORMASI PELAYANAN KESEHATAN

Direktur RSUD Pakuhaji, dr. Hj. Ummie Kulsum, MM., menegaskan bahwa kegiatan promosi kesehatan yang melibatkan dokter spesialis secara langsung merupakan bagian dari transformasi pelayanan kesehatan modern yang menempatkan masyarakat sebagai subjek utama pembangunan kesehatan.

Tantangan kesehatan saat ini tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan layanan pengobatan, tetapi juga kemampuan masyarakat dalam memahami faktor risiko penyakit serta mengambil langkah pencegahan secara mandiri.

“Peningkatan literasi kesehatan masyarakat merupakan investasi sosial yang memiliki dampak jangka panjang. Ketika masyarakat memahami risiko penyakit sejak dini, maka angka kesakitan dan beban pembiayaan kesehatan dapat ditekan secara signifikan,” ujar dr. Ummie Kulsum.

RSUD Pakuhaji akan terus mengembangkan berbagai program edukasi berbasis komunitas dengan melibatkan tenaga medis dari berbagai bidang spesialisasi guna memperluas akses informasi kesehatan yang valid, ilmiah, dan mudah dipahami masyarakat.

Pendekatan tersebut sejalan dengan visi pembangunan kesehatan yang humanis, inklusif, berbasis kebutuhan masyarakat, serta berorientasi pada peningkatan kualitas hidup secara menyeluruh.

Melalui kegiatan Promkes ini, Ummie Kulsum berharap masyarakat semakin sadar akan pentingnya menjaga kesehatan sejak dini melalui pengendalian faktor risiko, penerapan gaya hidup sehat, pemeriksaan kesehatan secara berkala, serta konsultasi medis secara tepat waktu.

Antusiasme peserta yang mengikuti kegiatan tersebut menunjukkan tingginya kebutuhan masyarakat terhadap informasi kesehatan yang akurat dan aplikatif. Edukasi yang diberikan tidak hanya memperluas wawasan medis masyarakat, tetapi juga memperkuat budaya preventif sebagai fondasi utama dalam mewujudkan masyarakat Kabupaten Tangerang yang sehat, produktif, dan Kompetitif.(Adv)

 

Rohim

Berita Terkait

Top
mgid.com, 663616, DIRECT, d4c29acad76ce94f