ATR/BPN Tangerang Selatan Jadikan Ramadan Momentum Penguatan Integritas dan Etika Pelayanan Publik
TANGERANG SELATAN, tangrayanews.com
Kantor Pertanahan Kota Tangerang Selatan yang berada di bawah naungan Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) menggelar kegiatan buka puasa bersama sebagai bagian dari upaya penguatan nilai spiritualitas, solidaritas kelembagaan, serta konsolidasi etos pelayanan publik di lingkungan aparatur pertanahan.Rabu (11/3/2026),
Kegiatan tersebut berlangsung di Aula Lantai 2 Kantor Pertanahan, dan dihadiri jajaran pejabat struktural, pegawai, serta sejumlah insan pers yang turut menjadi bagian dari ekosistem komunikasi publik lembaga.
Dalam perspektif kelembagaan, agenda ini tidak semata diposisikan sebagai kegiatan seremonial dalam rangka menyemarakkan bulan suci Ramadan. Kegiatan tersebut dimaknai sebagai ruang refleksi institusional untuk menegaskan kembali komitmen aparatur negara terhadap nilai integritas, profesionalitas, serta tanggung jawab moral dalam menjalankan mandat pelayanan publik di sektor agraria.
Seluruh peserta hadir dengan dress code bernuansa putih yang secara simbolik merepresentasikan kesucian, ketulusan, serta kesederhanaan. Dalam konteks etik birokrasi, simbolisme tersebut dipandang sebagai pengingat kolektif bagi aparatur untuk menjaga kemurnian niat, menjunjung kejujuran dalam praktik kerja, serta mempertahankan integritas dalam setiap proses pelayanan kepada masyarakat.
Rangkaian kegiatan yang melibatkan seluruh pegawai Kantor Pertanahan ini juga menjadi bagian dari strategi komunikasi institusional untuk mempererat kohesi internal lembaga sekaligus membangun kedekatan dengan masyarakat melalui pendekatan yang lebih humanis.
Kepala Kantor Pertanahan Kota Tangerang Selatan Dr. Seto Apriyadi, S.S.T., M.H. menegaskan bahwa bulan suci Ramadan memiliki makna strategis sebagai momentum introspeksi moral bagi seluruh aparatur negara, khususnya yang bertugas di sektor pelayanan publik.
Menurut Seto, kualitas birokrasi modern tidak hanya diukur dari kecakapan administratif maupun efektivitas sistem kerja, tetapi juga dari kedewasaan etika, integritas personal, serta komitmen moral aparatur dalam melayani masyarakat.
“Momentum Ramadan harus menjadi ruang kontemplasi bagi kita semua untuk memperkuat integritas, menjaga profesionalitas, serta memastikan bahwa setiap pelayanan yang diberikan benar-benar mencerminkan tanggung jawab moral sebagai aparatur negara,” ujar Seto dalam sambutannya di hadapan jajaran pegawai dan insan pers.Rabu (11/3/2026),
Ia menambahkan, nilai-nilai spiritual yang terkandung dalam Ramadan memiliki korelasi kuat dengan agenda reformasi birokrasi yang terus didorong oleh ATR/BPN. Aparatur pertanahan, kata dia, tidak hanya dituntut bekerja secara profesional, tetapi juga menjaga dimensi moral dalam setiap proses pelayanan yang bersentuhan langsung dengan kepentingan masyarakat.
Dalam kerangka tata kelola pemerintahan modern, penguatan dimensi etika dan spiritualitas diyakini mampu memperkuat kohesi sosial internal lembaga sekaligus menumbuhkan kesadaran kolektif bahwa pelayanan publik merupakan amanah negara yang menuntut dedikasi, kejujuran, dan integritas tinggi.
Di tengah dinamika pembangunan kawasan perkotaan yang berkembang pesat di Tangerang Selatan, keberadaan aparatur pertanahan yang profesional dan berintegritas dinilai menjadi elemen fundamental dalam menjaga tertib administrasi agraria sekaligus memastikan kepastian hukum hak atas tanah bagi masyarakat.
Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Tangerang Selatan Ahmad Eko Nursanto menilai penguatan integritas birokrasi di sektor pertanahan menjadi semakin relevan seiring meningkatnya intensitas pembangunan kawasan urban dalam beberapa tahun terakhir.
Menurutnya, percepatan pembangunan wilayah yang ditandai dengan ekspansi kawasan hunian, pertumbuhan sektor properti, serta meningkatnya aktivitas investasi menuntut sistem administrasi pertanahan yang semakin akuntabel dan transparan.
“Hal ini menjadi semakin relevan mengingat dinamika pembangunan kawasan perkotaan di Tangerang Selatan yang berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir. Dalam konteks tersebut, institusi pertanahan memegang peran fundamental dalam memastikan kepastian hukum agraria, tertib administrasi pertanahan, serta perlindungan hak-hak masyarakat atas tanah,” Jelas Eko.
Ia menambahkan, kegiatan buka puasa bersama tidak hanya memiliki dimensi sosial-keagamaan, tetapi juga mencerminkan komitmen kelembagaan dalam memperkuat fondasi kebersamaan internal serta meneguhkan kembali nilai-nilai profesionalisme aparatur.
“Melalui kegiatan ini, Kantor Pertanahan Kota Tangerang Selatan berupaya memperkuat fondasi kebersamaan internal sekaligus menegaskan kembali komitmen institusional terhadap prinsip kerja yang diusung ATR/BPN, yakni Melayani, Profesional, dan Terpercaya,” Pungkasnya.
Usai rangkaian sambutan, kegiatan dilanjutkan dengan pembacaan Surah Yasin, tahlil, serta doa bersama yang dipimpin oleh tokoh internal kantor. Prosesi spiritual tersebut berlangsung khidmat dan diikuti oleh seluruh pegawai yang hadir.
Aktivitas spiritual kolektif semacam ini tidak hanya dimaknai sebagai ritual keagamaan semata, tetapi juga sebagai medium pembentukan budaya organisasi yang berlandaskan nilai integritas, solidaritas, serta kesadaran etis dalam menjalankan fungsi birokrasi.
Pembacaan Yasin, tahlil, dan doa bersama menjadi momen reflektif bagi para aparatur untuk merenungkan kembali tanggung jawab profesi yang mereka emban, khususnya dalam mengelola urusan pertanahan yang memiliki implikasi langsung terhadap kepastian hukum, perlindungan hak masyarakat, serta stabilitas pembangunan daerah.
Menjelang waktu berbuka puasa, suasana kebersamaan semakin terasa ketika seluruh peserta berkumpul dalam satu ruang untuk menikmati hidangan berbuka bersama. Momentum tersebut kemudian dilanjutkan dengan pelaksanaan salat Maghrib berjamaah di lingkungan aula Kantor Pertanahan.
Dalam kerangka birokrasi modern, kegiatan internal secara spiritual dan kebersamaan dinilai memiliki signifikansi strategis dalam membangun budaya organisasi yang kolaboratif, berintegritas, serta berorientasi pada pelayanan publik.
Momentum Ramadan pun menjadi ruang refleksi kolektif bagi aparatur pertanahan untuk meneguhkan kembali nilai integritas, tanggung jawab sosial, serta dedikasi pelayanan kepada masyarakat. Dalam perspektif yang lebih luas, kualitas birokrasi yang unggul tidak semata ditentukan oleh kecanggihan sistem administrasi, tetapi juga oleh kedewasaan etika, kedalaman spiritualitas, serta komitmen moral aparatur negara dalam menjalankan amanah publik.
Rohim








