mgid.com, 663616, DIRECT, d4c29acad76ce94f
mgid.com, 663616, DIRECT, d4c29acad76ce94f

Utamakan Hak Anak atas Pendidikan: Kepsek SMPN 14 Tangsel Serukan Pentingnya EQ, Hadirnya Sekolah Sebagai Ruang Inklusif dan Humanis


Tangerang Selatan, tangrayanews.com
Fenomena sosial dalam dunia pendidikan kembali menunjukkan wajah humanistiknya di SMP Negeri 14 Pondok Aren, Tangerang Selatan. Dalam pemantauan media yang dilakukan secara langsung di lapangan, tampak dinamika awal tahun ajaran baru diwarnai oleh semangat luar biasa para peserta didik, meskipun di tengah keterbatasan atribut formal, seperti kelengkapan seragam sekolah.

Kepala SMPN 14 Tangsel, Saeful, M.Pd., dalam keterangannya kepada tim media, menyampaikan bahwa penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar pada tahun ajaran baru ini berjalan lancar dan kondusif. Sekolah menerima 11 rombongan belajar siswa baru, yang merupakan bagian dari regulasi zonasi dan kebutuhan pendidikan masyarakat sekitar. Dengan latar belakang pendidikan yang kuat dan pendekatan kepemimpinan yang progresif, Kepala Sekolah yang berasal dari Bima, Nusa Tenggara Barat ini menekankan pentingnya membangun iklim pendidikan yang berkeadilan dan partisipatif.

“Keberadaan siswa di ruang kelas jauh lebih penting dibandingkan formalitas berpakaian. Seragam bukanlah prasyarat esensial untuk tumbuhnya semangat belajar. Prioritas kita adalah memastikan bahwa setiap anak mendapat akses terhadap pendidikan yang bermakna,” ujar Saeful dengan ketegasan yang tetap membumi.

Pernyataan tersebut merefleksikan paradigma baru dalam manajemen pendidikan: menempatkan peserta didik sebagai subjek pembelajar, bukan sekadar objek administratif. Pendekatan ini menolak dikotomi antara simbol dan substansi, dan justru mengajak masyarakat, khususnya orang tua, untuk lebih berperan aktif dalam mendukung proses pendidikan anak, baik secara emosional maupun sosial.

Saeful juga menyoroti pentingnya keseimbangan antara kecerdasan intelektual (IQ) dan kecerdasan emosional (EQ), sebuah gagasan yang merujuk pada literatur psikologi pendidikan kontemporer. “Selama ini kita terlalu terpaku pada indeks kognitif sebagai ukuran keberhasilan belajar. Padahal, kecerdasan emosional memiliki kontribusi signifikan dalam pembentukan karakter, ketahanan mental, dan kapasitas sosial peserta didik di masa depan,” tambahnya.

SMPN 14, yang secara geografis berada dalam wilayah permukiman padat dan dekat dengan fasilitas pelayanan publik, secara sosio-demografis memainkan peran strategis sebagai pusat pembentukan modal sosial masyarakat. Lingkungan yang nyaman, aksesibilitas yang baik, dan kultur kelembagaan yang inklusif menjadikan sekolah ini sebagai magnet pendidikan di wilayah Pondok Aren.

Tampak bahwa kendati beberapa siswa belum mengenakan seragam resmi, hal tersebut tidak mengurangi motivasi maupun interaksi sosial mereka di lingkungan sekolah. Fenomena ini membuktikan bahwa pembelajaran sejati tidak ditentukan oleh atribut eksternal, melainkan oleh atmosfir psikologis, rasa aman, dan semangat kolektif yang tumbuh dalam komunitas belajar.

Studi mikro-sosiologis ini dapat menjadi cerminan bagaimana institusi pendidikan formal di tingkat menengah pertama mampu menunjukkan fleksibilitas sosial dalam konteks struktural. Ini pula yang memperkuat urgensi pendekatan transformatif dalam pendidikan, yakni menjadikan sekolah bukan sekadar tempat transfer ilmu, tetapi ruang pembebasan, pertumbuhan, dan aktualisasi diri.

Kasus SMPN 14 Tangsel adalah potret kecil dari harapan besar: bahwa pendidikan di Indonesia harus menjunjung nilai-nilai keadilan, empati, dan inklusi sosial. Kepemimpinan yang reflektif, siswa yang tangguh, serta masyarakat yang terlibat, merupakan tiga pilar utama dalam membangun masa depan pendidikan yang beradab.

Rhm/AmaLan

Berita Terkait

Top
mgid.com, 663616, DIRECT, d4c29acad76ce94f