mgid.com, 663616, DIRECT, d4c29acad76ce94f
mgid.com, 663616, DIRECT, d4c29acad76ce94f

Sertifikasi Tanah Wakaf: Upaya Kementerian ATR/BPN Pastikan Hukum dan Perlindungan Aset Keagamaan


SERANG, tangrayanews.com
Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) terus mendorong agar seluruh bidang tanah di Indonesia terdaftar secara resmi, termasuk tanah wakaf. Langkah ini bertujuan untuk memberikan kepastian hukum sekaligus mencegah potensi sengketa di masa mendatang. 

Kepala Kantor Wilayah BPN Provinsi Banten, Sudaryanto, dalam Rapat Monitoring dan Evaluasi yang berlangsung pada Selasa (6/5/2025), menegaskan bahwa sertipikasi tanah wakaf memiliki peranan penting dalam perlindungan aset keagamaan. 

“Sertifikasi tanah wakaf penting dilakukan karena merupakan bukti Hak Tanah Wakaf, memberikan kepastian hukum, serta mencegah konflik yang mungkin timbul di kemudian hari,” jelasnya. 

Ia menjelaskan bahwa banyak tanah wakaf saat ini telah dimanfaatkan sebagai tempat ibadah, seperti masjid, musala, dan pesantren. Namun, tanpa sertipikat resmi, lahan tersebut dapat berisiko menjadi objek gugatan oleh ahli waris pemilik tanah asal. Untuk mencegah hal tersebut, sertipikasi tanah wakaf harus segera dilakukan melalui prosedur yang telah ditetapkan. 

Kementerian ATR/BPN telah menyusun prosedur sertifikasi tanah wakaf secara sistematis agar prosesnya berjalan lancar dan sesuai regulasi. Berikut adalah tahapan utama yang harus dilakukan: 

1. Pembuatan Akta Ikrar Wakaf (AIW)** 
  – Tanah yang diwakafkan, baik yang              telah bersertipikat maupun yang                  belum, harus melalui proses Ikrar                Wakaf. 
  – Wakif (pihak yang mewakafkan tanah)
    bersama Nazir (pengelola harta wakaf)
    perlu menghadap Pejabat Pembuat              Akta Ikrar Wakaf (PPAIW), yakni                  Ketua Kantor Urusan Agama setempat. 
  – Dokumen yang diperlukan meliputi
    sertipikat hak atas tanah, bukti                    perolehan tanah (akta jual beli), surat        pernyataan kepemilikan, surat                      pernyataan tidak sengketa, surat                  keterangan dari kepala desa/lurah, dan      SPPT PBB tahun berjalan. 

2. Pendaftaran Tanah Wakaf 
  – PPAIW atas nama Nazir menyerahkan
    AIW atau Akta Pengganti Akta Ikrar
    Wakaf (APAIW) serta dokumen
    pendukung ke Kantor Pertanahan
    setempat. 
  – Setelah persyaratan dinyatakan                    lengkap,

Kantor Pertanahan akan menerbitkan keputusan penegasan status tanah wakaf dan sertipikat hak atas tanah wakaf atas nama Nazir. Untuk mengajukan permohonan sertipikat tanah wakaf, berikut dokumen yang harus dilengkapi: 

– Surat permohonan sertipikat 
– Peta Bidang Tanah/Surat Ukur 
– Bukti kepemilikan tanah (sertipikat atau
   bukti perolehan) 
– Akta Ikrar Wakaf (AIW) atau Akta
   Pengganti Ikrar Wakaf (APAIW) 
–  Surat pengesahan Nazir 
–  Surat pernyataan dari Nazir yang
   menyatakan bahwa tanah tidak dalam
   sengketa, perkara, sita, atau jaminan
   hukum lainnya. 

Melalui kebijakan ini, Kementerian ATR/BPN menegaskan komitmennya dalam mendorong perlindungan tanah wakaf serta memastikan bahwa aset keagamaan memiliki status hukum yang jelas dan terlindungi. Dengan sertipikasi tanah wakaf, masyarakat dapat memanfaatkan lahan wakaf secara optimal tanpa khawatir adanya potensi sengketa di masa depan. 

Red

Berita Terkait

Top
mgid.com, 663616, DIRECT, d4c29acad76ce94f