Reses DPRD Jateng, H. Tugiman B. Semita, S.P., Dorong Regenerasi Petani dan Digitalisasi Pertanian untuk Menopang Ketahanan Pangan
BOYOLALI , tangrayanews.com
Anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), H. Tugiman B. Semita, S.P., menegaskan bahwa transformasi sektor pertanian merupakan prasyarat fundamental dalam menjaga keberlanjutan ketahanan pangan daerah, khususnya di tengah tekanan alih fungsi lahan dan krisis regenerasi petani.Penegasan tersebut disampaikan Tugiman dalam kegiatan Reses Masa Persidangan Kedua Tahun Sidang 2025–2026 di Daerah Pemilihan Jawa Tengah VIII yang meliputi Kabupaten Boyolali, Kabupaten Magelang, dan Kota Magelang, Rabu (11/2/2026).
Kegiatan reses yang berlangsung di Rumah Makan Omah Prahu, kawasan Waduk Cengklik, Tempel, Sobokerto, Kecamatan Ngemplak, Kabupaten Boyolali itu dihadiri sekitar 70 peserta dari beragam latar belakang, mulai dari pelaku pertanian, komunitas digital, unsur masyarakat sipil, hingga perwakilan dunia usaha. Sejumlah perusahaan turut hadir, di antaranya PT Nigora Farma Digitama (Nirfama) yang diwakili oleh unsur Human Resources Development, mencerminkan keterhubungan isu pertanian dengan sektor industri dan sumber daya manusia.
Dalam forum serap aspirasi tersebut, Tugiman secara tegas menempatkan ketahanan pangan, khususnya komoditas sayur-mayur, sebagai agenda strategis daerah yang membutuhkan reposisi kebijakan tidak lagi berbasis pendekatan konvensional, melainkan inovatif, adaptif, dan terintegrasi dengan perkembangan teknologi.
Menurut Tugiman, persoalan pertanian saat ini tidak lagi terbatas pada isu ketersediaan lahan, tetapi telah berkembang menjadi persoalan struktural yang lebih kompleks, yakni menyusutnya jumlah petani aktif serta rendahnya minat generasi muda untuk terlibat dalam sektor agraria.
“Ketahanan pangan kita masih sangat bergantung pada petani konvensional. Namun realitasnya, jumlah mereka terus menurun dari tahun ke tahun. Tanpa strategi regenerasi yang sistematis, ketahanan pangan ke depan akan menghadapi tekanan serius,” ujarnya
Tugiman menilai, tantangan tersebut justru menyimpan peluang besar seiring tumbuhnya ekosistem digital di kalangan generasi muda. Oleh karena itu, arah kebijakan ketahanan pangan di Jawa Tengah perlu dirancang melalui integrasi pertanian modern dengan teknologi digital, sehingga sektor pertanian tidak hanya menjadi relevan secara sosial, tetapi juga menarik secara ekonomi dan berdaya saing tinggi.
Dalam paparannya, Tugiman mengemukakan sejumlah model pertanian masa depan yang dinilai mampu menjawab keterbatasan lahan sekaligus meningkatkan produktivitas. Model tersebut antara lain melalui penerapan green house, kultur jaringan, pertanian rumahan, serta sistem budidaya berbasis pot dan media tanam terbatas. Pendekatan ini, menurutnya, menjadi keharusan di tengah semakin masifnya alih fungsi lahan hijau akibat ekspansi pembangunan non-pertanian.
“Lahan pertanian kita terus tergerus oleh berbagai kepentingan pembangunan yang tidak selalu berorientasi pada produksi pangan. Karena itu, pendekatan yang rasional adalah intensifikasi berbasis teknologi, bukan semata-mata perluasan lahan,” tuturnya.
Dalam konteks yang lebih luas, Tugiman juga menyoroti perlunya strategi ketahanan pangan nasional yang bersifat komplementer. Pembukaan lahan pertanian baru di luar Pulau Jawa, menurut dia, perlu terus didorong, sementara wilayah Jawa Tengah difokuskan pada optimalisasi pertanian modern yang efisien, berkelanjutan, dan bernilai tambah tinggi.
Sejalan dengan itu, ia menekankan pentingnya keberpihakan kebijakan publik terhadap petani muda dan pelaku digital agar mereka dapat bertransformasi menjadi aktor utama dalam sistem pangan nasional. Aspirasi yang dihimpun melalui kegiatan reses ini, kata Tugiman, akan menjadi basis perumusan program konkret yang terintegrasi dalam perencanaan pembangunan daerah.
“Apabila pertanian dikelola secara modern, melibatkan generasi muda, serta ditopang kebijakan yang tepat sasaran, saya optimistis ketahanan pangan Jawa Tengah dapat terus terjaga. Insya Allah, persoalan pangan dapat kita hadapi secara sistematis dan berkelanjutan,”jelasnya.
Reses tersebut tidak hanya berfungsi sebagai ruang dialog antara wakil rakyat dan konstituen, tetapi juga menjadi momentum reflektif untuk merumuskan arah baru pembangunan pertanian Jawa Tengah yang berorientasi pada keberlanjutan, inovasi teknologi, dan kemandirian pangan di tengah dinamika perubahan sosial dan ekonomi nasional.
Rohim








