mgid.com, 663616, DIRECT, d4c29acad76ce94f
mgid.com, 663616, DIRECT, d4c29acad76ce94f

Prof. Dr. Sutan Nasomal Desak Evaluasi Serius terhadap Program MBG: Keselamatan Pelajar Harus Jadi Prioritas


JAKARTA, tangrayanews.com
Pakar Hukum Pidana Internasional dan Ekonom Nasional, Prof. Dr. KH Sutan Nasomal, SH, MH, menyampaikan seruan tegas kepada Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, agar segera melakukan evaluasi menyeluruh, atau bahkan mempertimbangkan penghentian sementara Program Makan Bergizi Gratis (MBG), menyusul terjadinya sejumlah kasus keracunan massal yang diduga berasal dari distribusi makanan program tersebut di berbagai wilayah.

Dalam keterangannya yang disampaikan kepada sejumlah pimpinan redaksi media nasional,pada Rabu (24/9/2025), Prof. Sutan menegaskan bahwa niat luhur Presiden dalam menghadirkan negara melalui pemenuhan gizi pelajar di seluruh penjuru Tanah Air patut diapresiasi tinggi. Namun, ia mengingatkan bahwa pelaksanaan program yang belum sepenuhnya matang justru berpotensi mengakibatkan dampak negatif yang kontraproduktif terhadap tujuan awal program.

“Gagasan MBG adalah bentuk perhatian negara yang luar biasa kepada generasi penerus bangsa. Namun, apabila pelaksanaannya menimbulkan korban jiwa akibat makanan yang tercemar, basi, atau tidak layak konsumsi, maka harus ada keberanian dari Presiden untuk segera melakukan intervensi struktural,” tegas Prof. Sutan dari kediamannya di Jakarta.

Menurut Prof, sudah banyak laporan dari berbagai daerah terkait insiden keracunan yang menimpa pelajar setelah mengonsumsi makanan MBG. Beberapa kasus bahkan telah dikategorikan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) karena menimbulkan risiko serius terhadap keselamatan anak-anak, terutama di daerah terpencil yang memiliki akses kesehatan sangat terbatas.

“Kita bicara nyawa anak-anak bangsa. Tidak semua daerah memiliki puskesmas atau rumah sakit yang dapat dijangkau dalam waktu cepat. Bila distribusi makanan tidak terkontrol, risikonya bisa sangat fatal,” ungkapnya.

Prof juga menekankan bahwa bentuk kehadiran negara dalam meningkatkan kualitas gizi dan kesehatan pelajar tidak harus selalu melalui distribusi makanan siap saji. Menurutnya, terdapat alternatif kebijakan yang lebih efektif dan minim risiko, seperti penguatan peran tenaga medis di sekolah, program kesehatan preventif, serta edukasi gizi yang berkelanjutan melalui kerja sama antara dinas kesehatan, dokter, dan sekolah.

“Menghadirkan dokter di sekolah, melakukan pemeriksaan rutin, memberikan edukasi gizi kepada siswa dan orang tua, itu langkah yang lebih struktural dan berkelanjutan. Negara bisa hadir tanpa membahayakan,” imbuhnya.

Sebagai pemerhati perlindungan anak dan pelajar, Prof. Sutan mengaku kerap menerima laporan dari masyarakat maupun media mengenai memburuknya kualitas makanan MBG. Ia menyebut banyak temuan di lapangan terkait makanan yang basi, berjamur, bahkan mengandung belatung atau zat berbahaya lainnya.

“Hal ini tidak hanya merugikan siswa, tetapi juga berpotensi mencoreng nama baik Presiden yang telah menunjukkan komitmen tulus terhadap pendidikan dan kesehatan anak-anak Indonesia,” ujarnya.

Prof. Sutan menegaskan bahwa kritik yang ia sampaikan tidak bertujuan menjatuhkan program, melainkan sebagai bentuk tanggung jawab moral dan akademik agar kebijakan publik benar-benar berpihak pada keselamatan dan masa depan anak bangsa.

“Presiden Prabowo adalah pemimpin kita semua. Saya yakin beliau akan lebih mengutamakan keselamatan rakyat daripada sekadar mempertahankan program yang masih bermasalah. Karena itu, opsi penghentian sementara sembari dilakukan evaluasi menyeluruh adalah langkah bijak,” pungkasnya.

Sebagai penutup, ia mengajak semua elemen bangsa, khususnya Kementerian Kesehatan dan instansi terkait, untuk lebih proaktif dalam melakukan pengawasan terhadap kualitas distribusi makanan MBG dan memperkuat kontrol terhadap pihak-pihak pelaksana di lapangan, agar tragedi serupa tidak kembali terulang.

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan salah satu program unggulan Pemerintah RI di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, yang bertujuan meningkatkan kualitas gizi pelajar di seluruh Indonesia. Pemerintah telah menyatakan komitmennya untuk terus memperbaiki kualitas implementasi program demi menjamin kesehatan dan keselamatan anak-anak Indonesia.

 

Sumber: Prof. Sutan nasiomal, SH.MH

Red

Berita Terkait

Top
mgid.com, 663616, DIRECT, d4c29acad76ce94f