mgid.com, 663616, DIRECT, d4c29acad76ce94f
mgid.com, 663616, DIRECT, d4c29acad76ce94f

Polres Metro Tangerang Kota Gandeng Pers dan Santuni Anak Yatim, Tegaskan Komitmen Transparansi dan Pengawasan Publik


TANGERANG, tangrayanews.com
Polres Metro Tangerang Kota menggelar kegiatan buka puasa bersama insan pers sekaligus santunan anak yatim. Kegiatan yang berlangsung dalam suasana khidmat tersebut menjadi momentum dalam mempererat kemitraan institusional antara kepolisian dan media untuk  menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas).Rabu (25/2/2026).

Acara kegiatan dipimpin langsung Kapolres Metro Tangerang Kota, Raden Muhammad Jauhari, dan dihadiri jajaran pejabat utama, di antaranya, Kabid Propam, para Kapolsek, perwira menengah (Pamen), perwira pertama (Pama),di lAula Polres Metro Tangerang Kota.

Dalam sambutannya, Kombes Pol. Dr. Raden Muhammad Jauhari, S.H., S.I.K., M.Si., menegaskan komitmen institusinya terhadap prinsip transparansi dan akuntabilitas dalam membangun keamanan wilayah.Pada agenda silaturahmi dan buka puasa bersama insan pers, ia secara eksplisit membuka ruang kolaborasi media sebagai mitra strategis dalam menjaga stabilitas dan ketertiban masyarakat.

Menurutnya, pemberitaan bernada kritis maupun negatif harus dipandang sebagai bagian dari mekanisme korektif dalam sistem demokrasi. Ia menekankan bahwa informasi yang berkembang di ruang publik perlu diluruskan secara proporsional dan berbasis data, bukan direspons secara defensif.

“Kami tidak pernah anti kritik dan tidak pernah anti media. Justru kami merasa terbantu dengan kehadiran rekan-rekan pers. Pemberitaan yang berkembang, termasuk yang bernada negatif, menjadi bahan evaluasi untuk kami luruskan secara objektif,” jelasnya.

Pernyataan tersebut mempertegas posisi Polres Metro Tangerang Kota dalam memandang pers sebagai pilar kontrol sosial yang inheren dalam tata kelola keamanan modern. Dalam kerangka governance, relasi antara kepolisian dan media bukan sekadar hubungan informatif, melainkan kemitraan deliberatif yang mendorong transparansi, pengawasan publik, dan legitimasi institusional.

Kapolres juga mengungkapkan bahwa dalam waktu dekat jajarannya akan menggelar Operasi Ketupat sebagai langkah preventif dan represif guna menjaga kondusivitas wilayah selama momentum Idulfitri. Operasi ini dirancang untuk memastikan keamanan arus mudik, kelancaran lalu lintas, serta stabilitas kamtibmas di wilayah hukum Kota Tangerang dan sekitarnya.

Untuk itu dirinya menekankan bahwa kepemimpinannya di tubuh Polri tidak bersifat absolut maupun imunitas terhadap pengawasan. Sebaliknya, sistem internal Polri memiliki mekanisme kontrol berlapis yang memastikan setiap tindakan aparat tetap berada dalam koridor hukum dan etika profesi. Dalam konteks tersebut, media turut berperan sebagai pengawas eksternal yang konstruktif.

“Saya selaku pimpinan tidak semena-mena. Kami semua diawasi oleh sistem internal Polri. Selain itu, media juga menjadi bagian dari pengawasan eksternal yang penting. Ini adalah bentuk checks and balances yang sehat,” tegasnya.

Secara konseptual, pernyataan ini menandai pendekatan kepemimpinan pada akuntabilitas publik dan kesadaran institusional. Dalam masyarakat perkotaan yang ditandai oleh percepatan arus informasi digital, legitimasi aparat penegak hukum tidak hanya ditentukan oleh kinerja operasional, tetapi juga oleh kemampuan membangun komunikasi yang transparan dan responsif.

Dengan membuka pintu dialog dan menerima kritik sebagai instrumen perbaikan, Polres Metro Tangerang Kota berupaya mengonsolidasikan kepercayaan publik menjelang pelaksanaan Operasi Ketupat. Sinergi antara kepolisian dan insan pers diharapkan tidak hanya memperkuat diseminasi informasi, tetapi juga membangun kesadaran kolektif masyarakat dalam menjaga keamanan secara partisipatif dan berkelanjut

Dalam konteks bersamaan, perwakilan organisasi wartawan yang tergabung dalam Kelompok Kerja (Pokja) Kota Tangerang, Mus Mulyadi, menyampaikan apresiasi atas keterbukaan Polres Metro Tangerang Kota terhadap insan pers.

Mus menambahkan pentingnya kolaborasi konstruktif antara media dan aparat penegak hukum dalam menjaga ruang publik tetap sehat dan informatif.

“Kami melihat ini sebagai bentuk kepedulian dan ruang kolaborasi. Insan pers memiliki tanggung jawab moral untuk terus berkontribusi menjaga stabilitas dan kondusivitas wilayah melalui pemberitaan yang profesional dan berimbang,” tambahnya.

Kegiatan ditutup dengan tausiah menjelang waktu berbuka yang disampaikan oleh Ustadz Maulana. Dalam ceramahnya menyampaikan bahwa, Ramadan bukan sekadar ritual menahan lapar dan dahaga, melainkan proses penyempurnaan spiritual yang menuntut pengendalian diri secara komprehensif baik lahir maupun batin.

“Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi menjaga seluruh anggota tubuh dari perbuatan yang merusak nilai ibadah. Kesempurnaan puasa terletak pada pengendalian diri secara lahir dan batin,” ujarnya di hadapan jajaran kepolisian dan awak media.

Secara normatif, pesan tersebut mengandung dimensi etik yang relevan dengan tugas institusional kepolisian. Pengendalian diri, integritas, dan akuntabilitas diposisikan sebagai fondasi moral dalam menjalankan fungsi perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat. Dalam konteks relasi dengan media, nilai-nilai tersebut diterjemahkan sebagai komitmen terhadap keterbukaan informasi, transparansi kinerja, serta kesiapan menerima kritik sebagai mekanisme kontrol sosial.

Agenda tersebut juga diwarnai pemberian santunan kepada anak yatim sebagai manifestasi kepedulian sosial. Langkah ini tidak semata bersifat simbolik, melainkan mencerminkan pendekatan humanis Polri dalam membangun kedekatan emosional dengan masyarakat. Dimensi sosial keagamaan yang dihadirkan menjadi bagian dari strategi membangun trust publik di tengah tantangan keamanan urban yang semakin multidimensional.

Secara substansial, buka puasa bersama ini memuat pesan strategis yang melampaui seremoni tahunan. Pertama, memperkuat ekosistem keamanan antara aparat penegak hukum dan media sebagai mitra kontrol publik. Kedua, meneguhkan komitmen terhadap transparansi dan akuntabilitas institusional. Ketiga, membangun ruang dialogis yang sehat guna merawat legitimasi sosial kepolisian di tengah arus informasi digital yang cepat dan sering kali polarisatif.

Dengan pendekatan yang terbuka terhadap kritik serta komunikasi yang partisipatif, Polres Metro Tangerang Kota menegaskan posisinya sebagai institusi yang tidak hanya berorientasi pada penegakan hukum, tetapi juga pada pembangunan kohesi sosial. Sinergi antara insan pers dan kepolisian dipandang sebagai relasi strategis bukan sekadar hubungan fungsional dalam menjaga perdamaian, ketertiban, dan stabilitas wilayah.

Di tengah dinamika masyarakat perkotaan yang terus bergerak, kolaborasi,etika, profesionalisme, dan tanggung jawab publik menjadi prasyarat utama untuk mempertahankan keamanan yang berkelanjutan. Ramadan, dalam konteks ini, menjadi refleksi kolektif bahwa kualitas pengabdian institusi negara berakar pada kualitas moral individu-individu di dalamnya.

 

 

Rohim

Berita Terkait

Top
mgid.com, 663616, DIRECT, d4c29acad76ce94f