Ketua Umum HMTN MP Turun Langsung ke Desa Kosik Putih: Komitmen Serius dalam Advokasi Konflik Agraria di Paluta
Padang Lawas Utara, tangraynews.com
Ketua Umum Himpunan Masyarakat Tani Nusantara Merah Putih (HMTN MP), *Dr. (Hc.) Azril Aska*, melaksanakan kunjungan kerja strategis ke Desa Kosik Putih, Kecamatan Simangambat, Kabupaten Padang Lawas Utara (Paluta), Sumatera Utara. Kunjungan ini merupakan bentuk konkret pelibatan organisasi dalam menyerap aspirasi masyarakat serta mendalami dinamika struktural yang melatarbelakangi konflik agraria yang telah berlangsung sejak awal dekade 2000-an.Kamis (19/6/2025).
Kunjungan tersebut turut dihadiri oleh jajaran pengurus HMTN MP pusat dan disambut resmi oleh Wakil Bupati Paluta, Basri Hasibuan, sebagai representasi pemerintahan daerah. Dalam sambutannya, Wabup menyampaikan apresiasi terhadap langkah sistematik HMTN MP dalam mengadvokasi hak-hak dasar petani, khususnya menyangkut akses legalitas dan keadilan agraria di wilayah terpencil.
Dalam pemaparan kronologis yang disampaikan oleh Ketua DPW HMTN MP Sumatera Utara, P. Sihotang, dijelaskan bahwa lahan seluas ±14.000 hektare yang sebelumnya telah digarap secara produktif oleh masyarakat Desa Kosik Putih, diduga diambil paksa oleh korporasi swasta PT Torganda sejak tahun 2006. Laporan telah diteruskan ke tingkat pusat guna memperoleh atensi institusional dari lembaga negara yang berwenang.
Ketua Umum HMTN MP, dalam orasinya, menekankan bahwa perjuangan ini tidak semata bersifat lokal, melainkan telah menjadi isu nasional yang menyangkut hak konstitusional masyarakat adat dan petani. “Kami akan meneruskan validasi data ini ke lembaga negara di Jakarta, sebagai bentuk afirmasi atas perjuangan masyarakat dalam memperoleh restitusi agraria secara sah dan bermartabat,” ujar Azril Aska.
Kunjungan ini juga memuat sesi testimoni dari elemen masyarakat, salah satunya Mujiono, tokoh lokal yang menyampaikan dampak psiko-sosial akibat konflik, seperti depresi dan trauma akut. Sementara itu, seorang ibu warga setempat secara emosional menyampaikan harapannya agar Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, dapat merespons langsung keluh kesah warga Desa Kosik Putih.
Tokoh masyarakat lainnya, Margono, menggarisbawahi bahwa sejak 1996 masyarakat telah membuka kawasan hutan menjadi lahan produktif pertanian, sebelum kemudian terjadi tindakan penggusuran oleh korporasi. “Kami adalah pelaku awal pembangunan pertanian di sini. Kami membuka, menanam, dan merawat tanah ini sebelum siapa pun menyentuhnya,” ungkapnya.
Menambahkan nuansa spiritualitas dalam perjuangan kolektif ini, KH Khambali selaku tokoh agama, menyerukan agar masyarakat mengedepankan doa dan keteguhan iman dalam menghadapi ujian ini. Ia menegaskan bahwa kemakmuran suatu bangsa ditentukan oleh kesalehan sosial dan kekuatan spiritual komunitasnya.
Acara ditutup dengan prosesi solidaritas kolektif, di mana seluruh elemen masyarakat, tokoh agama, serta pengurus HMTN MP berjalan bersama sambil mengumandangkan yel-yel: *“Hidup Petani Indonesia! Hidup Presiden Prabowo!”* sebagai manifestasi harapan dan semangat perjuangan rakyat desa untuk merebut kembali hak atas tanah mereka secara konstitusional.
Rhm








