mgid.com, 663616, DIRECT, d4c29acad76ce94f
mgid.com, 663616, DIRECT, d4c29acad76ce94f

Kepala DLH Kota Tangerang Tegaskan Arah Etika Lingkungan dalam Satu Abad Nahdlatul Ulama


TANGERANG,  tangrayanews.com
Peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-100 Nahdlatul Ulama (NU) tahun 1926–2026 tidak hanya dimaknai sebagai tonggak sejarah organisasi keagamaan terbesar di Indonesia, tetapi juga sebagai momen refleksi strategis atas kontribusi NU dalam membangun fondasi peradaban yang berakar pada nilai kemanusiaan, kebangsaan, dan keberlanjutan lingkungan hidup.

Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tangerang, Wawan Fauzi, SE, S.Kom, MM, yang menegaskan bahwa satu abad perjalanan NU merupakan bukti konsistensi moral dan sosial dalam menjaga harmoni relasi antara manusia, alam, dan nilai-nilai spiritual.

“Satu abad perjalanan Nahdlatul Ulama adalah manifestasi kesetiaan pada prinsip keseimbangan hidup. NU hadir bukan hanya sebagai penjaga tradisi keislaman dan kebangsaan, tetapi juga sebagai kekuatan kultural yang secara nyata merawat harmoni antara manusia dan alam,” kata Wawan, Minggu 01/02.

“Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Mulia”, Wawan menilai NU telah menempatkan isu lingkungan hidup sebagai bagian inheren dari perjuangan peradaban. Konsep rahmatan lil ‘alamin yang selama ini menjadi landasan gerakan NU, menurutnya, memiliki irisan kuat dengan paradigma pembangunan berkelanjutan (sustainable development) yang menempatkan kelestarian alam sebagai prasyarat utama kesejahteraan manusia.

Dalam konteks kekinian, Wawan menekankan bahwa tantangan ekologis seperti krisis iklim, degradasi kualitas lingkungan perkotaan, peningkatan volume sampah, hingga tekanan terhadap sumber daya air membutuhkan pendekatan etik sekaligus sistemik. Di titik inilah, nilai Merawat Jagat yang digaungkan NU menjadi relevan dan kontekstual.

“Merawat jagat bukan sekadar jargon moral, melainkan kerangka etik dan praksis yang menuntut keterlibatan negara, masyarakat, dan komunitas keagamaan dalam satu kesadaran kolektif. Peradaban yang mulia tidak mungkin dibangun di atas kerusakan ekologis,” tegasnya.

Sebagai bagian dari penyelenggara urusan lingkungan hidup di tingkat daerah, DLH Kota Tangerang, lanjut Wawan, terus mendorong transformasi kebijakan lingkungan yang berbasis kolaborasi dan partisipasi publik. Mulai dari penguatan pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular, peningkatan ruang terbuka hijau, pengendalian pencemaran, hingga edukasi lingkungan yang menanamkan kesadaran ekologis sejak dini.

Menurutnya, Kota Tangerang yang bersih, sehat, dan lestari tidak dapat dilepaskan dari peran aktif seluruh elemen masyarakat, termasuk organisasi keagamaan seperti NU yang memiliki basis sosial kuat hingga tingkat akar rumput.

“Kota Tangerang yang bersih dan lestari adalah bagian dari ikhtiar kebangsaan. Ini bukan hanya agenda teknis pemerintah daerah, melainkan perjuangan kolektif demi menjamin keberlanjutan hidup generasi mendatang,” kata Wawan.

Ia berharap momentum satu abad NU dapat menjadi katalis penguatan sinergi antara nilai-nilai keagamaan dan kebijakan publik, sehingga agenda pembangunan tidak semata berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada keadilan ekologis dan keberlanjutan jangka panjang.

Menutup pernyataannya, Wawan menegaskan bahwa sejarah panjang NU adalah inspirasi bagi seluruh pemangku kepentingan untuk terus mengawal Indonesia menuju peradaban yang berdaulat secara moral, maju secara sosial, dan lestari secara ekologis.

“Merawat jagat adalah amanah lintas generasi. Dengan meneladani keteguhan NU selama satu abad, kita memiliki fondasi kuat untuk memastikan bahwa kemajuan hari ini tidak dibayar dengan kerusakan masa depan,” pungkasnya.

 

 

Rhm

Berita Terkait

Top
mgid.com, 663616, DIRECT, d4c29acad76ce94f