mgid.com, 663616, DIRECT, d4c29acad76ce94f
mgid.com, 663616, DIRECT, d4c29acad76ce94f

Dugaan Pengeroyokan ART CCTV Sekolah Penabur Diminta Dibuka untuk Transparansi


TANGERANG, tangrayanews.com
Kepala regu keamanan Sekolah Penabur, Jamhuri, memberikan penjelasan komprehensif mengenai dugaan penganiayaan terhadap seorang Asisten Rumah Tangga (ART) yang diduga melibatkan tiga orang di area sekitar sekolah. Keterangan tersebut disampaikan dalam sesi klarifikasi bersama awak media pada Jumat (12/12/2025), setelah pihak sekolah menyelesaikan verifikasi internal.

Dalam keterangan awalnya, Jamhuri menegaskan bahwa dugaan pemukulan yang menimpa korban berlangsung di luar radius pengawasan operasional keamanan sekolah. Pada saat yang bersamaan, seluruh personel keamanan difokuskan pada prosedur rutin pengamanan jam pulang siswa dan pengaturan arus penyeberangan di gerbang sekolah.

“Kami fokus mengawal siswa yang pulang. Dugaan pemukulan itu terjadi di luar pantauan dan jangkauan kami,” tegas Jamhuri.

Menurut rekaman audio dan hasil wawancara, personel keamanan merespons ketika terdengar seruan minta tolong dari area yang berdekatan dengan gerbang sekolah.

“Ada orang teriak-teriak. Wajar kami sebagai sekuriti untuk menghampiri, memastikan kondisi, dan mengetahui apa yang terjadi,” ujar Jamhuri.

Ketika mendekat ke sumber suara, Jamhuri mendapati korban dalam kondisi mengalami luka.

“Saya lihat sudah berdarah. Untuk proses pemukulannya, kami tidak tahu. Itu benar-benar di luar penglihatan saya,” tambahnya.

Jamhuri juga menjelaskan bahwa korban kemudian dibawa ke sebuah mobil oleh pihak keluarga, termasuk seorang perempuan yang disebut sebagai ibu dari JT, anak majikan korban.

“JT diambil orang tuanya. Yang perempuan dari pihak keluarga,” ungkapnya.

Menurut Jamhuri, tahap penjemputan tersebut dipandang sebagai penanda bahwa keluarga menganggap situasi telah berada dalam kendali mereka  “Kalau sudah dijemput berarti sudah aman,” ujarnya.

Selain informasi observasional, Jamhuri turut menyampaikan informasi sekunder yang ia peroleh dari staf internal sekolah berinisial DC dan AL.

Menurut informasi tersebut, JT sempat bersembunyi di ruang kelas atau ruang kepala sekolah, diduga sebagai tindakan pengamanan sementara setelah pihak keluarga menuju sekolah.

“Infonya dari Pak AL, karena mamanya mau jemput, JT sempat sembunyi di ruang kelas atau ruang kepala sekolah untuk diamankan,” jelasnya.

Jamhuri menegaskan bahwa informasi tersebut bukan hasil pengamatan langsung.

“Saya pribadi bersedia menjadi saksi, tetapi saya tegaskan bahwa saya tidak melihat langsung,” tegasnya.

Saat sesi klarifikasi, perwakilan media mempertanyakan ketersediaan rekaman CCTV sebagai bukti otentik yang dapat memperkuat kronologi peristiwa. Jamhuri menjawab bahwa akses terhadap CCTV berada di bawah otoritas manajemen sekolah dan akan ditinjau lebih lanjut.

“Coba dipelajari. Kita juga izin dengan pihak manajemen sekolah,” kata Jamhuri.

Tim media menegaskan bahwa rekaman CCTV memiliki nilai strategis dalam mengungkap apakah terjadi penganiayaan sebelum korban ditemukan terluka.

“Semua bukti itu ada di CCTV. Meski situasi pulang sekolah ramai, rekaman tetap harus diperiksa,” ujar perwakilan media.

Jamhuri kembali menegaskan bahwa mayoritas rangkaian insiden inti berada di luar domain kewenangan dan pengawasan satuan keamanan sekolah.

“Ini berada di luar cakupan kewenangan kami sebagai sekuriti,” tegasnya dalam penutup.

Ketika diminta memberikan keterangan tambahan, Jamhuri memastikan tidak ada informasi lain yang dapat disampaikan pada tahap ini.

“Untuk sementara itu tidak ada, Pak,” pungkasnya.

 

Tim

Berita Terkait

Top
mgid.com, 663616, DIRECT, d4c29acad76ce94f