mgid.com, 663616, DIRECT, d4c29acad76ce94f
mgid.com, 663616, DIRECT, d4c29acad76ce94f

Prof Sutan Nasomal: Presiden RI Perlu Siaga Satu di Tengah Memanasnya Ketegangan Jepang–China


JAKARTA, tangrayanews.com
Pakar Hukum Internasional dan Ekonomi Nasional, Prof Dr KH Sutan Nasomal SH, MH, menilai eskalasi geopolitik di kawasan Asia Timur khususnya antara Jepang dan China—harus menjadi alarm serius bagi Indonesia. Ia meminta Presiden RI Prabowo Subianto untuk menetapkan status siaga satu serta memerintahkan seluruh unsur pertahanan dan diplomasi bekerja 24 jam memantau perkembangan.

“Situasi global sedang berada pada titik panas. Jepang dan China menunjukkan tanda kesiapan perang. Presiden RI perlu mengantisipasi segala kemungkinan sejak sekarang,” ujar Prof Sutan dalam wawancara via whatsapp, Jumat (21/11/2025).

Menurut Prof Sutan, langkah Jepang meningkatkan kesiagaan militer dan mengimbau warganya segera meninggalkan China menjadi sinyal kuat bahwa potensi konflik terbuka semakin dekat. Hal serupa dilakukan pemerintah China yang meminta warga negaranya di Jepang untuk segera pulang.

“Ini bukan indikator biasa. Dua negara yang saling menarik warganya menandakan tingkat eskalasi yang sangat tinggi,” ujarnya.

Prof Sutan menilai China memiliki keunggulan militer dibanding Jepang, terutama dari sisi jumlah personel, armada tempur, dan dukungan geopolitik dari Korea Utara dan Rusia. Namun demikian, Jepang tetap harus diperhitungkan berkat teknologi militernya yang maju dan pengalaman historisnya dalam peperangan besar.

“Jepang tidak bisa diremehkan. Mereka adalah bangsa dengan memori strategis yang kuat, pernah menjadi kekuatan dominan di Asia Pasifik,” ucapnya.

Ia juga menyoroti absennya kepemilikan senjata nuklir Jepang dalam peta kekuatan kawasan. Namun jika konflik meningkat ke level tertentu, ia menilai keterlibatan negara-negara pemilik nuklir sangat mungkin terjadi.

“Stok alutsista global sudah terkuras akibat perang di Ukraina dan konflik berkepanjangan di Timur Tengah. Jika Jepang dan China berperang, tensi nuklir bisa meningkat drastis,” kata Prof.

Prof Sutan menegaskan bahwa bila perang pecah, kawasan Asia Tenggara—termasuk Indonesia—akan menjadi ruang strategis yang ikut terdampak. Posisi geografis Indonesia dianggap sangat potensial menjadi jalur lalu lintas militer internasional.

“Samudra Indonesia dapat menjadi jalur kapal selam dan kapal induk dunia. Pulau-pulau Indonesia bisa saja dibayangi kepentingan logistik pihak-pihak yang bertikai,” jelasnya.

Ia juga menyebut Taiwan sebagai titik yang berpotensi mengalami nasib serupa Palestina, yakni menjadi arena tarik-menarik kekuatan besar Barat dan Timur.

Melihat dinamika global yang semakin tidak menentu, Prof Sutan menyerukan agar Presiden Prabowo Subianto segera menyiagakan seluruh unsur negara—dari TNI, Polri, hingga Kementerian Luar Negeri.

“Presiden harus mengambil langkah antisipatif. Kesiapan pertahanan harus ditingkatkan, diplomasi harus bekerja tanpa jeda,” tegasnya.

Ia menambahkan, tahun 2026 diprediksi para analis strategis sebagai fase paling rawan terhadap potensi konflik berskala besar, termasuk kemungkinan penggunaan senjata nuklir.

“Indonesia harus berada satu langkah lebih depan sebelum situasi global memasuki fase yang tidak dapat dikendalikan,” pungkasnya.

Sunber: Prof DR KH Sutan Nasomal SH, MH

Editor: Rohim

Berita Terkait

Top
mgid.com, 663616, DIRECT, d4c29acad76ce94f